News & Event


AIPC Conference. Innovative Youth in Action : Emphasizing Public Value in Addressing Perpetual Social Issues

Category : News | Date Post : 9 Oktober 2021

 

Publicaction UGM 2021 telah menyelenggarakan konferensi dengan tema “Emphasizing Public Value in Addressing Perpetual Social Issues” pada Sabtu, 11 September 2021 secara online melalui Zoom. Konferensi ini mengundang Chu Wong, Butet Manurung, Damar Juniarto, Abigail Limuria, dan Prof. Erwan Agus Purwanto sebagai narasumber. 

Diskusi dibuka Chu Wong sebagai narasumber pertama. Ia membawakan topik “The Importance of Sustainability: The Role of Society in Overcoming Fast Fashion”. Chu Wong menjelaskan bahwa untuk memproduksi sebuah baju sampai ke tangan konsumen sebenarnya melalui banyak tahapan hingga ‘end-of-life’ sebuah baju. Dibalik mewahnya industri fashion terdapat sisi gelap yang berdampak bagi beberapa aspek terutama HAM bagi para pekerjanya dan limbah yang dihasilkan oleh industri ini. Chu Wong juga memberikan tips untuk mengurangi limbah fast fashion yang terdiri dari use what you have; borrow; swap; thrift; make; buy. 

Sesi selanjutnya dibawakan oleh Butet Manurung “Discussion About the Importance of Preserving the Existence of Indigenous People and Their Culture in the Modern World”. Indonesia sendiri merupakan salah satu dari 144 negara yang meratifikasi UNDRIP (United Nation Declaration on Rights of Indigenous Peoples). Orang Rimba sudah memiliki hukum adat yang telah dilestarikan secara turun temurun, namun ‘draft’ hukum Orang Rimba sedang diproses oleh parlemen berdasarkan DIM (Daftar Inventaris Kasus) yang menimbulkan konflik. Butet Manurung menjelaskan keanekaragaman hayati dan pengetahuan yang membantu mereka untuk bertahan selama ratusan tahun, tetapi setelah mereka mengetahui bahwa hal tersebut akan digantikan dengan sistem pendidikan nasional yang akan diterapkan 100% tentu saja tidak akan relevan dengan kehidupan mereka. 





















 Sesi ketiga diskusi diisi oleh Damar Juniarto yang membawakan topik “Freedom of Speech In Digital Era”. Beliau mengatakan bahwa dalam beberapa dekade ini kawasan Asia Tenggara mengalami kebangkitan otoritarianisme digital dalam bentuk undang-undang yang mengarah pada ranah online namun tidak berakar pada Undang-Undang Hak Asasi Manusia Internasional. Otoriter di Asia Tenggara telah beradaptasi dengan teknologi yang ada, namun hal tersebut sering digunakan untuk tujuan mereka sendiri. Mereka telah meningkatkan keamanan dan represi online untuk melakukan kooptasi pada kelompok sosial tertentu, menekan kritik dan melegitimasi aturan mereka. Kini media sosial dapat dijadikan senjata melalui disinformasi, tentara cyber, dan propaganda komputasi. 





















Sesi keempat diskusi diisi oleh Abigail Limuria yang membawakan topik “Why Youths Should Be Brave to Voice Their Opinions and Ideas”. Abigail adalah Co-Founder ‘What’s Up Indonesia?’. Ia menceritakan asal muasal pendirian WIUI yang dimulai dari mimpi rekannya, Faye Simanjuntak, untuk membuat akun informasi tentang politik Indonesia yang berbahasa Inggris untuk anak-anak Indonesia yang bersekolah di sekolah internasional atau memang lebih nyaman untuk berbahasa Inggris sehari-harinya. Menurutnya, anak muda harus ‘melek’ politik dan berani bersuara untuk membuat Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Karena untuk membangun Indonesia dibutuhkan sebuah ide yang spesifik.

Sesi kelima yang merupakan sesi terakhir diskusi diisi oleh Prof. Erwan Agus Purwanto yang membawakan topik “Developing Agile Government to Enhance Indonesia’s Competitiveness”. Profesor Erwan menyampaikan bahwa kontribusi birokrasi Indonesia untuk level daya saing di negara ASEAN cukup rendah. Birokrasi yang tangkas dapat menjadi solusi, karena dapat meningkatkan kualitas, relevan, fleksibel, dan menambah business value. Selain itu juga dapat mengubah pola pikir, cara bekerja, dan cara berinteraksi kearah yang lebih baik. Namun untuk menerapkan metode dan prinsip yang tangkas tersebut, organisasi harus melakukan pergeseran kelincahan dari praktik lama ke praktik baru. Misalnya mempersiapkan rencana, memproses, dan memulai interaksi.

 

Konferensi ditutup oleh Q&A yang diajukan peserta kepada narasumber yang dituju. Sampai jumpa di acara Publicaction selanjutnya. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi @publicaction.ugm di Instagram.

 

-

Universitas Pembangunan Nasional.

Jl. RS Fatmawati, Pd. Labu, Cilandak, Kota Depok, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12450

081310166485
Copyright © 2018 Designed by: Yosua Satrio